Selasa, 28 Juni 2011

Resume Bab Percakapan (MK Teori Komunikasi)

PERCAKAPAN

Percakapan adalah sebuah rangkaian interaksi dengan awal dan akhir, dan beberapa maksud dan tujuan. Tradisi Sosiopsikologis, teori ini berfokus pada pengenalan variable-variable yang mempengaruhi perilaku kita dalam berinteraksi. Teori ini menjelaskan bagaimana cara kita menyesuaikan perilaku kita dengan orang lain, bagaimana dan kapan perilaku kita mulai terbagi, apa yang terjadi ketika dugaan kita dilanggar, dan bagaimana juga kita dapat mendeteksi kebohongan yang berdasarkan perilaku orang lain.

Dua tema utama yang muncul pada teori ini adalah focus terhadap kondisi tiap individu dalam mengatur ketidakpastian orang lain, dan tema yang kedua yaitu tentang sosiopsikologis yang berkenaan dengan percakapanmelibatkan organisasi, koordinasi, dan menghubungkan perilaku sebagai bagian dari interaksi.

TEORI PENGURANGAN KETIDAKPASTIAN

Teori ini proses dasar tentang bagaimana kita mengenal orang lain berger menyatakan bahwa manusia sering kali kesulitan dengan ketidakpastian, menurut berger ketika kita berkomunikasi, kita membuat rencana untuk mencapai tujuan kita, kita menyusun rencana komunikasi kita dengan orang lain berdasarkan pada kita seperti halnya penggunaan informasi yang kita miliki tentang borang lain. Daya tarik atau afiliasi nampaknya memiliki hubungan yang positif dengan pengurangan ketidakpastian. Sebagai contoh, pengungkapan nonverbal akan mengurangi ketidakpastian.

Berger juga menyatakan beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan informasi tentang orang lain. Antara lain strategi pasif adalah pengamatan sedangkan strategi aktif mengharuskan pengamat untuk melakukan sesuatu untuk mendapatkan informasi, strategi interaktif sangat bergantung pada komunikasi dengan orang lain. Strategi pasif yang pertama adalah reaktifitas pengamatan, di sini individu benar benar di amati ketika melakukan sesuatu bereaksi dalam situasi tertentu, strategi aktif mengenai informasi mencakup menanyai tentang orang lain yang di tuju dan memanipulasi lingkungan yang memungkinkan orang tersebut untuk di amati, strategi interaktif mencakup interogasi dan pengungkapan diri.

PENGELOLAAN KETIDAKPASTIAN KECEMASAN

Wiliam gudykunst dan para koleganya telah ,memperluas karya berger dalam cara cara yang penting, mereka telah menemukan bahwa semua kebudayaan mencoba untuk mengurangi ketidakpastian dalam tahap tahap awal sebuah hubungan, tetapi mereka melakukan dalam cara cara yang berbeda, perbedaannya dapat di jelaskan dengan apakah seseorang merupakan anggota dari sebuah kebudayaan dengan konteks yang tinggi atau kebudayaan dengan konteks yang rendah.

Proses pengurangan ketidakpastian antara manusia dari kebudayaan kebudayaan yang berbeda akan dipengaruhi pila oleh variabel veriabel tambahan. Kegagalan dan kurangnya adaptasi dalam situasi interkultural sangat bergantung pada ketidakpastian dan kecemasan. Semakin sedikit yang kita ketahui dan kita semakin cemas, mungkin kita akan semakin tidak efektif dalam situasi situasi interkultural. Tidak ada garis jelas yang menandai komunikasi yang sulit atau bermasalah akan berakhir, malahan individu individu yang berbeda memiliki ambang ketidakpastian dan kecemasan yang berbeda.

Di tahun tahun terakhir, gudykunst telah memperluas teori ini secara lebih mendalam, bahwa teori tersebut sekarang mencakup sekitar 50 dalil yang berhubungan dengan konsep diri, motivasi, reaksi terhadap orang orang baru, penggolongan sosial, proses proses situasional, hubungan dengan orang orang baru, dan beberapa hal lain yang berhubungan dengan kecemasan dan keefektifan. Jelasnya, kecemasan dan ketidakpastian berhubungan dengan sifat sifat komunikasi, prilaku, dan pola pola, serta kombinasi ini memengaruhi apa yang kita lakukan dalam percakapan dengan orang orang yang tidak kita kenal.



TRADISI SOSIOKULTURAL
Teori-teori sosiokultural tentang percakapan akan mengarah pada penjelasan-penjelasan dari pemahaman apa yang dibuat atau dibangun dalam percakapan dan bagaimana symbol-simbol diartikan melalui interaksi. Teori-teori ini memberitahu kita tentang tema percakapan apa yang menyatukan manusia dan bagaimana pelaku percakapan berbagi makna, dan juga berfokus pada bagaimana pelaku komunikasi bekerjasama dengan sebuah cara yang tersusun untuk mengatur pembicaraan mereka. Dalam teori ini ada empat area yang dicakup, yaitu:
1.      Interaksionisme Simbolis
Interaksionisme simbolis, sebuah pergerakan dalam sosiologi , berfokus pada cara-cara manusia membentuk makna dan susunan dalam masyarakat melalui percakapan.  Barbara Ballis Lal meringkas dasar-dasar pemikiran gerakan ini sebagai berikut:
·         Manusia membuat keputusan dan bertindak sesuai pemahaman subyektif mereka  terhadap situasi ketika mereka menemukan diri mereka.
·         Kehidupan sosial terdiri dari proses-proses interaksi daripada susunan, sehingga terus berubah.
·         Manusia memahami pengalaman mereka melalui makna-makna yang ditemukan dalam symbol-simbol dari kelompok utama mereka dan bahasa merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial.
·         Dunia terbentuk dari objek-objek sosial yang memiliki nama dan makna yang ditentukan secara sosial.
·         Tindakan manusia didasarkan pada penafsiran mereka, di mana objek dan tindakan yang berhubungan dalam situasi yang dipertimbangkan dan diartikan.
·         Diri seseorang merupakan sebuah objek yang signifikan dan layaknya objek sosial, dikenalkan melalui interaksi sosial dengan orang lain.
Bab ini berfokus pada interaksionisme simbolis klasik, gagasan-gagasan dasar dari gerakan tersebut dan perluasan yang secara teori harus diakui dalam bidang berkomunikasi.
Menurut George Herbert Mead, pendiri Interaksionisme simbolis, mengemukakan tiga konsep utama yaitu masyarakat, diri sendiri, dan pikiran. Kategori-kategori ini merupakan aspek-aspek yang berbeda dari proses umum yang sama yang disebut tindak sosial, yang merupakan sebuah kesatuan tingkah laku yang tidak dapat dianalisis ke dalam bagian-bagian tetentu.
Dalam bentuknya yang paling mendasar, sebuah tindak sosial melibatkan sebuah hubungan dari ketiga bagian : gerak tubuh awal dari salah satu individu, respon orang lain terhadap gerak tubuh tersebut, dan sebuah hasil. Hasilnya adalah arti tindakan tindakan tersebut bagi pelaku komunikasi.
Tindakan individu yang tetap, seperti berjalan sendirian atau membaca sebuah buku adalah interaksional karena didasarkan pada gerak tubuh serta respons yang banyak terjadi di masa laludan terus berlanjut dalam pikiran individu.
Tindakan bersama (joint action) antara dua orang atau lebih, seperti yang terjadi dalam pernikahan, perdagangan, perang, atau kebaktian di gereja terdiri atas sebuah interlinkage dari interaksi-interaksi yang lebih kecil. Blumer mencatat bahwa dalam sebuah masyarakat maju, bagian terbesar dari tindakan kelompok terdiri atas pola-pola yang stabil dan selalu berulang yang memiliki makna yang umum dan tetap bagi anggota mereka. Blumer juga menyebutkan bahwa situasi-situasi yang baru menghadirkan masalah-masalah yang membutuhkan penyesuaian dan pendefinisian ulang.
Interhubungan dapat diserap, diperluas, dan dihubungkan melalui jaringan yang rumit, yaitu sebuah jaringan atau sebuah institusi tidak bekerja secara otomatis karena adanya beberapa persyaratan system atau dinamika pada bagian dalamnya. Jaringan ini bekerja karena manusia pada poin-poin yang berbeda melakukan sesuatu dan apa yang mereka lakukan merupakan sebuah hasil dari bagaimana mereka menjelaskan situasi yang meminta mereka untuk bertindak.
Tiga konsep utama dalam analisis Mead:
1.      Masyarakat (society) atau kehidupan kelompok, terdiri atas perilaku-perilaku kooperatif anggota-anggotanya yang mengharuskan kita untuk mengetahui apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Jadi kerjasama terdiri dari “membaca” tindakan dan maksud orang lain serta menanggapinya dengan cara yang tepat. Makna merupakan sebuah hasil komunikasi yang penting, seperti yang disebutkan Mead bahwa gerak tubuh sebagai symbol signifikan. Di sini kata gerak tubuh atau gesture mengacu pada setiap tindakan yang dapat memiliki makna.

2.      Diri sendiri
Kegiatan saling mempengaruhi antara merespons pada orang lain dan diri sendiri ini adalah suatu konsep penting dalam teori Mead. Cara utama untuk dapat melihat diri kita seperti orang lain melihat kita adalah dengan pengambilan peran atau menggunakan sudut pandang orang lain, dan inilah yang menyebabkan kita mempunyai konsep diri atau refleksi umum orang lain tentang diri kita (generalize others).

Diri memiliki dua segi, yaitu I dan me. I merupakan dari diri kita yang menurutkan kata hati, tidak teratur, tidak terarah, dan tidak dapat ditebak. Me adalah refleksi umum orang lain yang terbentuk dari pola-pola yang teratur & tetap. Setiap tindakan dimulai dengan sebuah dorongan dari I dan dikendalikan oleh me. I adalah tenaga penggerak sedangkan me memberikan petunjuk dan arah. Mead menggunakan konsep me untuk menjelaskan perilaku yang dapat diterima secara sosial serta adaptifdan konsep I untuk menjelaskan gerak hati yang kreatif dan tidak dapat ditebak.

3.      Pikiran
Kemampuan kita untuk menggunakan symbol-simbol yang signifikan untuk merespons diri kita sendiri menjadikan berpikir adalah sesuatu yang mungkin. Berpikir adalah konsep ketiga Mead, yang ia sebut pikiran. Pikiran bukanlah sebuah benda melainkan sebuah proses. Hal ini tidak lebih dari sekedar berinteraksi dengan diri kita sendiri.
Manusia menggunakan symbol-simbol yang berbeda untuk menamai objek. Objek itu sendiri berubah karena kita melihatnya melalui sudut pandang yang berbeda.
Menurut Blumer objek terbagi dalam tiga jenis, yaitu fisik (benda-benda), sosial (manusia), dan abstrak (gagasan-gagasan). Manusia mendefinisikan objek secara berbeda tergantung pada bagaimana mereka bertindak terhadap objek tersebut.
Interaksionisme simbolis sebagai sebuah gerakan , ada untuk meneliti cara-cara manusia berkomunikasi, memusat, atau dapat membagi makna.
TRADISI KRITIS
Teori kritis menunjukakan kepada kida bahgaimana menggunakan bahasa dalam percakapan yang menciptakanpembagian sosial dan memegang teguh pandangan kesetaraan yang memnentuk komunikasi dengan memberi wewenang kepada semua klompok.
Tiga teori yang menggambarkan cara kerja tersebut.
1.                 bahasa berkisar pada teori budaya, menjelaskan kepentingan dari bahasa dalam  pembentukan identitas budaya.
2.                Teori budaya, menerapkan pemikiran ini kepada hubungan antar pribadi.
3.                Retorika ajakan, menyuguhkan cara berpikir baru mengenai percakapan.
Prespektif Bahasa dalam Kegunaan
Johnson mengusulkan enam asumsi atauaksioma dari prespektif bahasa terpusat.
1.      Semua komunikasi terjadi dalam kerangka kerja budaya.
2.      Semua individu diam diam mengolah pengetahuan kebudayaan yang mereka gunakan untuk berkomunikasi .
3.      Dalam masyarakat multikultur, ada idiologi liguistik yang domonan menggantikan atau mengesampingkan kelompok budaya lain.
4.      Anngoota kelompok yang terpinggirkan mengolah pengetahuan tentang kedua byudaya mereka dan budaya dominan.
5.      Pengethauna kebudayaan baik yang terpelihara dan lewqat begitu saja dan secara konstan berubah.
6.      Ketika semua budaya pendamping saling mempengaruhi dan mempergunakan satu sama lain.
TEORI BUDAYA PENDAMPING (Cocultural Theory)
Teori budaya pendamping adalah teori mengenai percakapan antara anggota kelompok dominan dan yang terwakilkan, termasuk orang-orang berwarna: wanita, gay, lesbian, biseksual, dan individu-individu trans gender, orang yang tidak berkemampuan dan sebagainya.
Teori budaya pendamping didasari dengan 5 asumsi:
1.      Sebuah hierarki ada dalam masyarakat yang mengistimewakan kelompok tertentu.
2.      Anggota dominan dalam basis dari berbagai tingkatan keistimewaan.
3.      Sistem komunikasi dominan berfungsi untuk menjaga anggota kelompok budaya pendamping dari luar inti kekuasaan.
4.      Sementara masih ada keragaman yang patut dipertimbangkan dalam budaya pendamping.
5.      Anggota kelompok budaya pendamping secara strategis berkomunikasi untuk mengatasi sistem dimana yang mereka temukan sendiri.
Enam faktor yang mempengaruhi pemilihan strategi
1.      Menghendaki hasil
2.      Merupakan bidang pengetahuan
3.      Kemampuan
4.      Konstekstuasi
5.      Pendekatan komunikasi tegas
6.      Pendekatan komunikasi tidak tegas
Faktor-faktor ini adalah tergantung acuan pemahaman dan tindakan yang membingkai sebuah respons budaya kedua dalam interaksi tertentu. Teori budaya kedua dengan gambar terfokus pada strategi interkasi diantara anggota kelompok budaya kedua dan budaya doinan, sangat mirip dengan teori percakapan.
APLIKASI & IMPLIKASI
Dalam beberapa hal,kehidupan manusia dapat di golongkan dengan percakapan.kita dibedakan oleh fakta bahwa kita memiliki percakapan yang kompleks;kita mendefinisikan realitas dalam berbicara ,dan hubungan kita dengan yang lainnya dan dunia yang tersusun dengan sejarah interaksi simbolis semenjak lahir sampai mati.
Dari contoh teori yang disajikan dalam bab ini,kita melihat bahwa percakapan dapat dipahami dengan serangkaian cara yang berbeda.akan tetapi,kelima tema tersebut kelihatannya memangkas banyak variabel yang ditelusuri dalam teori ini.
1.      Masalah obrolan sehari-hari
Kita harus menyadari bahwa percakapan sehari-hari bagi manusia lebih dari kegiatan sampingan kehidupan.dentuman komunikasi tidak akan pernah terjadi tanpa percakapan di baliknya.dengan kata lain,kita perlu untuk memahami pentingnya dan memperhatikan percakapan sehari-hari.bahkan,obrolan biasapun signifikan dalam menjelaskan siapa diri kita dan menghasilkan kebudayaan tempat kita tinggal.
2.      Percakapan memerlukan keselarasan interaksi
Teori-teori dalam bab ini menerangkan isi dari pengetahuan dan kemampuan yang penting untuk dilakukan pada apa yang sering dirasakan dan terlihat sia-sia.dalam peristiwa problematis khususnya,kita memperlakukan informasi sebagai sebuah sumber berharga dalam interaksi.kita menggunakan informasi ini untuk mengurangi ketidakpastian dan membuat keputusan bagaimana bereaksi terhadap orang tertentu,sebagaimana ditunjukkan dalam teori pengurangan ketidakpastian.perilaku verbal dan non-verbal dipakai pada apa yang sedang terjadi disekeliling kita.teori akomodasi,contohnya,memperlihatkan bagaimana manusia mencocokkan dan membedakan perilaku mereka dari orang lain.teori-teori percakapan menunjukkan bahwa hal ini sulit,dan mungkin tidak beruna untuk memisahkan komunikasi verbal dan non-verbal dalam percakapan yang sedang berlangsung.teori-teori pada bab ini menunjukkan bahwa interaksi melibatkan keduannya dan terikat erat.
3.      Percakapan bermakna melalui tindakan
Walaupun informasi yang kita cari itu penting,percakapan lebih daripada pertukaran informasi.percakapan lebih daripada naskah.Curtis lebaron,Jenny mandelbaum,dan Philip glenn mengingatkan kita,”luas pikiran manusia dibalik kulit seprti hal nya manusia yang tergantung pada dunia sosial dan dunia materil untuk memperoleh pengetahuan dan menunjukkan kemampuan intelektual.dengan kembali dan meneruskan sebuah interaksi,pelaku komunikasi cenderung membuat sesuatu yang logis,masuk akal,atau berhubungan.dalam komunikasi,istilah wacana biasanya untuk bagian obrolan.wacana selalu dipahami sebagai bagian dari arus komunikasi yang sedang berlangsung yang memiliki rasa keterkaitan.Scott jacobs mengutip tiga hal yang dapat kita pelajari dengan menguji percakapan secara hati-hati dalam apa yang dikenal sebagai analisis wacana.hal pertama yang dapat kita pelajari adalah bagaimana manusia memahami pesan.informasi apa yang didapat dari struktur pernyataan yang membuat seseorang dapat mengetahui apa itu artinya.akhirnya,kita dapat mnguak bagaimana membuat pola pembicaraan masuk akal dan logis.percakapan adalah peristiwa kerja sama.manusia harus memainkan permainan denga aturan yang sama atau mereka tidak akan pernah tahu apa yang sedang terjadi.supaya kerja sama terjadi,partisipan berasumsi sendiri mengenai orang lain-sebuah asumsi bahwa setiap orang percaya dengan maksud untuk berbicara bedasarkan aturan.kombinasi dari aturan dasar kerjasama-seperti kuantitas obrolan yang tepat,keadaan sebenarnya,relevan,dan pengaturan dengan fleksibilitas yang diperbolehkan dengan melibatkan percakapan-membuatnya mungkin untuk manusia supaya menjadi sejumlah perluasan obrolan untuk memenuhi semua aturan secara keseluruhan.sebuah percakapan denga teman lama atau kolega “klik” karena pelaku komunikasi bergantung lagi dan lagi pada tema fantasi yang membentuk visual lebih besar yang muncul dari sejarah sehari-hari.
4.      Percakapan teratur
Sebuah percakapan lebih mirip sebuah improvisasi yang partisipan bergantung pada ketetapan beberapa peraturan untuk mengatur kelangsungannya.teori-teori percakapan membantu kita melihat bagaimana pelaku komunikasi menciptakan aturan ketika mereka berinteraksi.ketetapan percakapan dapat disebut juga aturan,seperti yang dijabarkan oleh Susan shimanoff dalam wacana berikut:supaya komunikasi ada atau berlanjut,dua individu atau lebih yang berinteraksi harus berbagi aturan untuk penggunaan simbol.tidak hanya mereka harus mempunyai aturan untuk simbol individu,namun mereka juga harus sepakat denga permasalahan tersebut sebagaimana mengambil giliran dalam berbicara,bagaimana supaya sopan,dan bagaiman untuk menghina, menyalami,dan seterusnya.jika setiap penguna simbol memanipulasi simbol secara acak,akibatnya akan mengacaukan komunikasi.
5.      Percakapan asal maknanya dari konteks terjadinya
Alur komunikasi yang sedang berlangsung dalam kehidupan kita pada semua tingkata menciptakan serangkaian konteks yang memberikan makna terhadap percakapan tertentu.tidak ada percakapan yang berdiri sendiri,tetapi selalu berdasarkan sejarah dan menuju masa depan.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar